Tradisi Pernikahan Adat Bali: Tahapan Upacara dan Maknanya

Mengenal tradisi pernikahan adat Bali, mulai dari memadik atau ngidih, mekala-kalaan, hingga mepamit, beserta makna di balik setiap upacaranya.

Tim Kekondangan · 4 menit baca

Daftar isi
  1. Dua hal yang perlu dipahami dulu
  2. Memadik atau ngidih: meminang secara resmi
  3. Mekala-kalaan: upacara penyucian
  4. Upacara di rumah mempelai pria
  5. Mepamit: berpamitan kepada leluhur
  6. Menghadirkan suasana Bali di undangan

Pernikahan adat Bali, yang dikenal dengan sebutan pawiwahan, adalah upacara yang sarat nilai spiritual. Bagi umat Hindu Bali, pernikahan bukan hanya ikatan dua orang, tetapi juga penyatuan yang disaksikan oleh leluhur, sesama, dan Tuhan. Panduan ini merangkum tahapan yang paling umum supaya kamu punya gambaran sebelum berdiskusi dengan keluarga dan pemuka adat.

Dua hal yang perlu dipahami dulu

Desa, kala, patra

Masyarakat Bali mengenal prinsip desa, kala, patra, yaitu menyesuaikan dengan tempat, waktu, dan keadaan. Karena itu, urutan, nama upacara, dan sarana banten bisa berbeda antardesa, antarkeluarga, dan antarkasta.

Uraian di bawah adalah gambaran umum. Untuk detailnya, keluarga biasanya berkonsultasi dengan pemangku atau sulinggih yang akan memimpin upacara.

Sistem kekerabatan yang patrilineal

Sebagian besar masyarakat Bali menganut sistem patrilineal. Artinya, setelah menikah, pengantin perempuan umumnya ikut masuk ke keluarga suami, termasuk dalam urusan pemujaan di pura keluarga atau merajan sang suami.

Hal inilah yang membuat upacara utama pernikahan Bali biasanya digelar di rumah mempelai pria. Ini juga yang menjelaskan mengapa ada prosesi khusus ketika mempelai perempuan berpamitan dari keluarga asalnya.

Memadik atau ngidih: meminang secara resmi

Bentuk pernikahan yang paling umum dan dianggap ideal adalah memadik, yang juga dikenal sebagai ngidih. Dalam cara ini, keluarga pihak laki-laki datang secara resmi ke rumah keluarga perempuan untuk meminta sang gadis menjadi menantu.

Kunjungan ini biasanya disertai sarana upacara dan dilakukan dengan tutur kata yang santun. Bila pinangan diterima, kedua keluarga kemudian membicarakan hari pelaksanaan. Pemilihan hari baik atau dewasa ayu sangat diperhatikan dan biasanya ditentukan berdasarkan kalender Bali dengan bantuan pemuka agama.

Selain memadik, di Bali juga dikenal bentuk pernikahan lain yang diakui adat. Bentuk mana yang dipakai bergantung pada keadaan dan kesepakatan keluarga.

Mekala-kalaan: upacara penyucian

Salah satu upacara terpenting dalam pernikahan Bali adalah mekala-kalaan, di beberapa tempat disebut juga mabyakala. Upacara ini dilaksanakan di rumah mempelai pria dan dipimpin oleh pemangku.

Tujuannya adalah menyucikan kedua mempelai dari pengaruh buruk atau unsur kala, sehingga mereka siap memasuki kehidupan berumah tangga dengan lahir batin yang bersih. Dalam upacara ini ada sejumlah tindakan simbolis yang dilakukan pasangan. Bentuknya bisa berbeda antardaerah, tetapi yang cukup sering dijumpai antara lain:

  • Menusuk tikar anyaman kecil dengan keris, yang sering dimaknai sebagai simbol penyatuan pria dan wanita.
  • Memutus benang yang dibentangkan, sebagai tanda pasangan siap meninggalkan masa remaja dan memasuki kehidupan baru.
  • Prosesi jual beli, kadang disebut dagang-dagangan, ketika pasangan seolah bertransaksi, sebagai gambaran bahwa dalam rumah tangga suami dan istri harus saling melengkapi dan bekerja sama.

Makna setiap simbol bisa dijelaskan sedikit berbeda oleh tiap pemangku. Itulah sebabnya, kalau kamu ingin memahami lebih dalam, tanyakan langsung kepada yang memimpin upacaramu.

Upacara di rumah mempelai pria

Setelah mekala-kalaan, rangkaian dilanjutkan dengan upacara inti di rumah mempelai pria, yang dalam banyak keluarga disebut mewidhi widana atau natab banten. Kedua mempelai melakukan persembahyangan di merajan keluarga pria untuk memohon restu dan memberitahukan kepada leluhur bahwa ada anggota keluarga baru.

Upacara ini dipimpin pemangku atau sulinggih dan disaksikan keluarga besar. Bagi umat Hindu Bali, momen inilah yang mengesahkan pernikahan secara agama dan adat.

Selain keluarga, biasanya hadir pula perwakilan banjar atau desa adat sebagai saksi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pernikahan di Bali juga menjadi urusan masyarakat, karena pasangan baru akan ikut memikul kewajiban sebagai warga banjar. Setelah upacara keagamaan, banyak keluarga menggelar resepsi untuk menjamu kerabat, tetangga, dan rekan.

Mepamit: berpamitan kepada leluhur

Karena mempelai perempuan akan masuk ke keluarga suami, ada prosesi mepamit. Dalam prosesi ini, ia datang ke rumah asalnya, biasanya bersama suami dan keluarga pihak pria, lalu bersembahyang di merajan keluarganya untuk berpamitan kepada leluhur.

Mepamit adalah momen yang menyentuh. Ia bukan berarti memutus hubungan dengan keluarga asal, melainkan tanda hormat dan permohonan restu sebelum memulai peran baru. Waktu pelaksanaannya bisa sebelum atau sesudah upacara di rumah mempelai pria, tergantung kebiasaan keluarga.

Menghadirkan suasana Bali di undangan

Karena upacara inti dan resepsi sering diadakan di waktu atau tempat berbeda, tamu perlu informasi yang jelas. Di Kekondangan, ada tema adat Bali beranimasi lengkap dengan hitung mundur dan peta lokasi ke Google Maps, jadi tamu dari luar daerah pun mudah menemukan lokasinya. Nama tamu tampil di sampul lewat tautan bernama, dan undangannya bisa dibuka tanpa memasang aplikasi.

Ingin membandingkan dengan tradisi lain? Baca juga adat pernikahan Batak Toba. Saat sudah siap, lihat koleksi tema atau langsung buat undangan.

Bermanfaat? Bagikan ke calon pengantin lain.

Kekondangan

Undangan bertema Bali, nama tamu di sampul

Isi acara, lalu kirim tautan bernama ke setiap tamu lewat WhatsApp. Bayar sekali, tamu tanpa batas.