Daftar isi
Pernikahan adat Jawa dikenal dengan rangkaian prosesi yang panjang dan penuh simbol. Setiap tahap punya makna, mulai dari doa untuk kebersihan hati sampai harapan agar rumah tangga rukun dan berkecukupan. Panduan ini merangkum urutan yang paling umum supaya kamu dan keluarga punya gambaran sebelum berdiskusi dengan sesepuh atau pemandu adat.
Persiapan dan siraman
Perlu diingat dulu, adat Jawa tidak seragam. Gaya Solo dan Yogyakarta saja sudah punya perbedaan, belum lagi kebiasaan tiap daerah dan tiap keluarga. Jadi anggap urutan di bawah sebagai gambaran umum, bukan aturan baku.
Pasang tarub
Beberapa hari sebelum acara, banyak keluarga memasang tarub di rumah, yaitu hiasan dari janur dan dedaunan di depan rumah. Sering juga dipasang bleketepe, anyaman daun kelapa, sebagai tanda bahwa keluarga sedang punya hajat.
Di sebagian keluarga, momen ini juga diisi dengan doa bersama atau kunjungan ke makam leluhur untuk memohon restu. Bentuknya sangat bergantung pada kebiasaan dan keyakinan keluarga masing-masing.
Siraman: menyucikan diri
Siraman biasanya dilakukan sehari sebelum akad. Calon pengantin dimandikan dengan air yang ditaburi bunga, disiramkan bergantian oleh orang tua dan beberapa sesepuh yang dihormati. Jumlah orang yang menyiram sering dibuat ganjil, misalnya tujuh, sesuai kebiasaan keluarga.
Maknanya adalah membersihkan diri, lahir dan batin, sebelum memasuki kehidupan baru. Siraman juga menjadi momen haru, karena di sinilah orang tua secara simbolis "melepas" anaknya. Di beberapa daerah, setelah siraman ada prosesi dodol dawet, ketika orang tua mempelai wanita "berjualan" dawet kepada tamu dengan pembayaran berupa pecahan genting, sebagai harapan agar rezeki mengalir dan tamu yang datang ramai.
Midodareni: malam sebelum akad
Midodareni berlangsung pada malam sebelum akad. Namanya berasal dari kata widodari atau bidadari. Ada kepercayaan bahwa pada malam itu calon pengantin wanita dikunjungi bidadari, sehingga ia akan tampil sangat cantik keesokan harinya.
Pada malam ini calon pengantin wanita biasanya tetap berada di kamar, ditemani kerabat perempuan. Keluarga calon pengantin pria datang berkunjung untuk bersilaturahmi, dan calon pengantin pria umumnya belum boleh bertemu dengan calon istrinya. Malam midodareni sering juga diisi dengan nasihat dari orang tua dan doa bersama.
Ijab kabul atau akad nikah
Inti dari seluruh rangkaian tentu saja akad nikah, yang dilaksanakan sesuai agama mempelai. Bagi pasangan Muslim, ini adalah ijab kabul di hadapan penghulu dan saksi. Prosesi adat sesudahnya bersifat budaya, sedangkan akad inilah yang membuat pernikahan sah.
Banyak keluarga menggelar akad di pagi hari, lalu melanjutkan dengan upacara panggih dan resepsi pada hari yang sama.
Panggih: pertemuan kedua mempelai
Panggih berarti bertemu. Inilah prosesi adat yang paling sering ditonton tamu, karena berisi rangkaian simbol yang indah. Urutannya bisa sedikit berbeda, tapi umumnya meliputi:
- Balangan gantal. Kedua mempelai saling melempar gulungan daun sirih berisi pinang dan kapur yang diikat benang. Ini melambangkan cinta kasih yang saling dilemparkan, sekaligus harapan agar segala hal buruk tertolak.
- Wiji dadi atau ngidak tigan. Mempelai pria menginjak telur, lalu mempelai wanita membasuh kakinya. Ini melambangkan harapan akan keturunan dan bakti istri, sementara di sisi lain menjadi tanda kesiapan suami memikul tanggung jawab.
- Sindur binayang. Kedua mempelai diselimuti kain sindur dan dituntun berjalan perlahan oleh ayah mempelai wanita menuju pelaminan, diikuti sang ibu. Artinya orang tua menunjukkan jalan menuju kebahagiaan.
- Timbang atau pangkon. Di sebagian tradisi, ayah mempelai wanita memangku kedua mempelai sebagai tanda kasih sayangnya sama besar kepada anak dan menantunya.
- Kacar-kucur. Mempelai pria menuangkan biji-bijian, beras, dan uang logam ke pangkuan mempelai wanita yang menampungnya dengan kain. Maknanya, suami memberi nafkah dan istri mengelolanya dengan baik.
- Dulangan. Kedua mempelai saling menyuapi. Ini simbol saling melayani, berbagi, dan menikmati suka duka bersama.
Sungkeman: memohon restu orang tua
Rangkaian adat biasanya ditutup dengan sungkeman. Kedua mempelai berlutut di hadapan orang tua dari kedua pihak, memohon maaf dan meminta doa restu.
Bagi banyak keluarga, inilah momen paling menyentuh. Sungkeman mengingatkan bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga dua keluarga yang akan saling menjaga.
Tips agar prosesi berjalan lancar
- Diskusikan dengan sesepuh atau pemandu adat sejak awal, karena merekalah yang paham kebiasaan keluarga dan daerahmu.
- Pilih prosesi yang ingin dipertahankan. Tidak semua keluarga menjalankan rangkaian lengkap, dan itu wajar.
- Beri tahu tamu soal jadwal. Kalau ada akad, panggih, dan resepsi di jam berbeda, tuliskan dengan jelas di undangan.
- Siapkan perlengkapan simbolis lebih awal, seperti daun sirih, telur, kain sindur, dan isi kacar-kucur.
Kalau kamu juga sedang menyusun seluruh persiapan, checklist persiapan pernikahan bisa membantu agar tidak ada yang terlewat.
Membawa nuansa Jawa ke undangan
Rasa adat sebenarnya sudah bisa dirasakan tamu sejak mereka membuka undangan. Di Kekondangan, ada tema adat Jawa beranimasi yang bisa kamu pakai, dengan nama tamu tampil di sampul lewat tautan bernama. Jadwal akad, panggih, dan resepsi bisa dicantumkan bersama hitung mundur dan peta lokasi ke Google Maps.
Kamu bisa melihat-lihat koleksi tema dulu, atau langsung membuat undangan saat sudah siap.
Bermanfaat? Bagikan ke calon pengantin lain.
Kekondangan
Undangan bertema Jawa, nama tamu di sampul
Isi acara, lalu kirim tautan bernama ke setiap tamu lewat WhatsApp. Bayar sekali, tamu tanpa batas.

